BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalimantan Selatan, guna mengurangi curah hujan yang memicu terjadinya bencana banjir di wilayah tersebut.
Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat, BNPB, Agus Riyanto, mengatakan OMC di Kalsel mulai dilaksanakan Jumat (9/1) malam, dan dijadwalkan akan berlangsung selama lima hari ke depan. Sedangkan frekuensi penerbangan pesawat penyemai awan, sangat fleksibel, menyesuaikan kondisi cuaca.
"Tujuan utama operasi ini adalah memecah awan hujan agar tidak menumpuk di daratan, sehingga risiko banjir besar di pemukiman warga dapat ditekan. Jumlah penerbangan tergantung eskalasi cuacanya," tutur Agus.
Jika cuaca landai atau baik, tim akan standby untuk efisiensi biaya. Tapi kalau kondisi ekstrem, maka penyemaian awan hujan akan dilakukan masif untuk mengamankan wilayah sasaran.
Lebih jauh dikatakan Agus, dalam kondisi darurat atau ancaman hujan ekstrem, BNPB telah menyiapkan skema “perapatan sortie”. Artinya, pesawat akan terbang lebih sering untuk memastikan awan hujan segera luruh sebelum mencapai daratan. Selain BMKG, operasi OMC juga melibatkan TNI AU dan BPBD Kalsel.
Pantauan Media Indonesia, dalam beberapa hari terakhir curah hujan di wilayah Kalsel menurun dan cenderung panas. Namun banjir masih merendami sejumlah wilayah terutama daerah dataran rendah dan daerah aliran sungai (DAS). Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan mencatat sejumlah sungai besar seperti Sungai Balangan, Sungai Martapura, Sungai Riam Kanan dan Sungai Maluka dalam kategori merah atau bahaya.
Pada bagian lain Pemprov Kalsel terus menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir di berbagai lokasi. Jumat (9/1) malam Wakil Gubernur Kalsel, Hasnuryadi Sulaiman menyalurkan bantuan banjir ke Desa Sungai Madang, Kabupaten Banjar. (H-2)





