Lubang Jamban dan Martabat Manusia, Ikhtiar dari Kabupaten Belu

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Kondisi ekonomi yang sulit membuat tak semua masyarakat mampu membangun jamban yang layak di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Berpuluh-puluh tahun, mereka hidup dalam lingkungan tidak sehat. Gerakan bersama membangun jamban didorong demi mengangkat martabat manusia.

Pada Sabtu (10/1/2025), sebanyak 65 keluarga Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Belu, menerima bantuan pembangunan jamban. Desa itu di pinggiran Atambua, ibu kota Kabupaten Belu. Perkampungannya dibelah oleh jalan negara, dekat perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

"Jamban tidak sebatas demi memenuhi standar sanitasi total berbasis masyarakat. Namun lebih dari itu, yakni bagaimana mengangkat harkat dan martabat manusia," kata Direktur Centrum Insiatif Rakyat Mandiri John Mangu Ladjar.

Secara simbolis, lubang jamban diserahkan kepada perwakilan masyarakat. Selanjutnya, John bersama tim akan membangun jamban di setiap rumah, dan ditargetkan selesai empat bulan ke depan. Pembangunannya melibatkan partisipasi masyarakat.

Menurut John, Desa Kabuna dipilih mengingat masih banyak masyarakat menggunakan jamban darurat. Ada yang dindingnya dari seng, tripleks, juga tarpal bekas. Ada pula yang masih buang air besar sembarangan. Kondisi lingkungan pun menjadi tidak sehat.

John menuturkan, pembagian lubang jamban sudah dilakukan di Pulau Timor beberapa tahun terakhir. Total sudah dibangun jamban di 350 rumah dan digunakan sekitar 500 keluarga. Biasanya, dalam satu rumah terdapat lebih dari satu keluarga.

Baca JugaKemiskinan dan Sanitasi Buruk Pangkal Masalah Tengkes di NTT

"Ke depan, kami akan terus membantu. Masih banyak masyarakat yang buang air besar sembarangan karena alasan ekonomi. Bayangkan, jamban pun mereka tak sanggup bangun," katanya.

Mewakili masyarakat, Kepala Desa Kabuna Adrianus Yoseph berterima kasih atas bantuan pembangunan jamban. Ia berjanji akan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Desa Kabuna yang berada tak jauh dari perbatasan Indonesia dan Timor Leste itu terdiri atas 1.593 keluarga dan 6.216 jiwa. Lebih dari 90 persen penduduknya adalah petani. Ekonomi mereka sangat bergantung dari hasil kebun dan kerja serabutan.

Diakuinya, ketiadaan jamban mengganggu kesehatan masyarakat terutama tumbuh kembang anak. Berbagai penyakit sering timbul. Pembangunan jamban menjadi titik awal meningkatkan standar kesehatan lingkungan.

Serial Artikel

Anak Perbatasan Menempa Diri di Unhan RI

Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan RI, di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, telah menjadi tempat untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah perbatasan.

Baca Artikel

Dalam catatan Kompas, kesehatan lingkungan mempengaruhi secara signifikan angka tengkes atau stunting. Sumbangsihnya tertinggi, yakni sebesar 40 persen. Selebihnya adalah asupan makanan 20 persen, genetik 20 persen, dan perilaku manusia 30 persen.

Sementara itu, Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves yang hadir dalam penyerahan itu juga menyampaikan terima kasih atas bantuan pembangunan jamban. Bagi dia, inilah bagian dari kolaborasi untuk memajukan daerah. 

Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Terlebih saat ini, pengurangan transfer ke daerah otomatis mengurangi belanja pembangunan. Daerah seperti Belu, sangat bergantung pada alokasi anggaran dari pemerintah pusat.

Ia pun berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih, makanan, pendidikan anak, dan lingkungan yang sehat termasuk jamban yang layak. Hal ini mengingat masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. 

Baca Juga90 Persen Desa di Malaka Belum Memenuhi Standar Sanitasi

Jumlah penduduk miskin di Belu sebanyak 109.966 jiwa atau 46,86 persen dari jumlah penduduk sebanyak 234.645 jiwa. Adapun kategori miskin ekstrem sebanyak 27.508 keluarga atau 41,46 persen dari total keluarga di daerah itu sebanyak 66.354.

Untuk pembangunan insfratruktur skala besar, lanjutnya, Belu yang menyandang predikat daerah perbatasan, sudah cukup banyak mendapat bantuan dari pemerintah pusat. Jalan, jembatan, sekolah, bandara, hingga pelabuhan sudah terbangun.

Di tengah pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia, jamban menjadi salah satu tolok ukur penting. Kini, semua pihak menanti wajah baru Desa Kabuna setelah pembangunan jamban selesai dikerjakan nanti. Sejatinya, ketersediaan jamban yang mendukung sanitasi masyarakat adalah bagian dari sejauhmana martabat manusia diangkat dan dihormati.

Serial Artikel

Takhta Maria di Teluk Gurita

Patung Bunda Maria di Teluk Gurita, Kabupaten Belu, NTT, menjadi destinasi wisata rohani.

Baca Artikel


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia-China Perkuat Kerja Sama Perdagangan, Investasi, dan Integrasi Industri
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemerintah Sudan Resmi Kembali Berkantor di Ibu Kota usai Dua Tahun Perang
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menkes: Harga Tiket Pesawat Menuju Aceh Sangat Mahal daripada ke Malaysia
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
AS Minta Warganya Segera Tinggalkan Venezuela, Ada Apa?
• 4 jam laludetik.com
thumb
Rocky Gerung Beberkan Isi Pidato Megawati di Rakernas PDIP
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.