Rencana Trump Ambil Alih Greenland Ditolak Keras Warga dan Parlemen Lokal

eranasional.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait ambisinya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang memiliki posisi strategis di kawasan Arktik. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat harus bertindak lebih cepat untuk menguasai pulau terbesar di dunia tersebut sebelum kekuatan besar lain seperti China dan Rusia memperluas pengaruh mereka.

Trump menyatakan, penguasaan Greenland oleh AS dapat dilakukan melalui pembelian atau dengan cara lain. Ia bahkan menyiratkan bahwa persetujuan dari pihak Greenland bukanlah faktor utama dalam rencana tersebut.

“Saya tidak berbicara tentang uang untuk Greenland. Saya mungkin akan membicarakannya, tetapi saat ini kami akan melakukan sesuatu di Greenland, terlepas dari mereka menyukainya atau tidak,” ujar Trump saat ditanya mengenai biaya yang harus dikeluarkan AS agar Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat, dikutip dari kantor berita Rusia TASS, Sabtu (10/1/2026).

Trump menilai, jika Amerika Serikat tidak segera bertindak, maka Rusia atau China berpotensi mengambil alih wilayah tersebut. Menurutnya, skenario itu akan menjadi ancaman langsung bagi keamanan nasional AS.

“Karena jika kami tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland, dan kami tidak ingin Rusia atau China menjadi tetangga kami,” tegas Trump.

Dalam pernyataannya, Trump juga menegaskan bahwa dirinya lebih menginginkan proses pengambilalihan dilakukan melalui kesepakatan damai. Namun, ia tidak menutup kemungkinan menempuh langkah yang lebih keras apabila pendekatan tersebut gagal.

“Saya ingin membuat kesepakatan yang mudah. Tetapi jika kami tidak melakukannya dengan cara yang mudah, kami akan melakukannya dengan cara yang sulit,” ujarnya.

Ketika ditanya mengapa AS harus memiliki Greenland secara penuh, padahal Washington sudah memiliki akses militer yang luas di pulau tersebut dan perairan sekitarnya, Trump memberikan jawaban yang menegaskan pandangan strategisnya.

“Karena ketika Anda memilikinya, Anda mempertahankannya. Anda tidak mempertahankan hak sewa dengan cara yang sama. Anda harus memilikinya,” kata Trump.

Ambisi Trump terhadap Greenland bukanlah hal baru. Sejak masa jabatan sebelumnya, ia berulang kali menyatakan ketertarikannya untuk menjadikan Greenland bagian dari wilayah Amerika Serikat. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Trump secara terbuka tidak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mewujudkan rencana tersebut.

Namun, pernyataan Trump kembali memicu reaksi keras dari masyarakat dan elite politik Greenland. Lima partai politik utama di Greenland secara kompak menyatakan penolakan tegas terhadap rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih wilayah mereka.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Jumat (9/1/2026), partai-partai tersebut menegaskan bahwa masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri, bukan oleh kepentingan negara asing.

“Kami tidak ingin menjadi orang Amerika,” demikian inti pesan yang disampaikan para pemimpin politik Greenland dalam pernyataan tersebut.

Sebagai bentuk keseriusan dan untuk menjamin transparansi politik, parlemen Greenland atau Inatsisartut memutuskan untuk memajukan jadwal sidang parlemen. Langkah ini diambil guna memastikan adanya:

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa isu Greenland kini telah menjadi persoalan politik nasional yang sangat sensitif dan strategis bagi wilayah tersebut.

Pernyataan penolakan ini muncul tidak lama setelah Trump kembali melontarkan ancamannya di Gedung Putih. Dalam pernyataan publiknya, Trump secara terang-terangan menyebut Greenland sebagai wilayah strategis yang harus dikuasai Amerika Serikat demi kepentingan geopolitik dan keamanan.

“Kita akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka. Karena jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland, dan kita tidak ingin bertetangga dengan Rusia atau China,” kata Trump.

Ia kembali menegaskan bahwa penggunaan kekuatan bukanlah pilihan utama, tetapi tetap menjadi opsi yang terbuka.

“Saya ingin membuat kesepakatan dengan cara mudah. Tetapi jika kita tidak melakukannya dengan cara mudah, kita akan melakukannya dengan cara sulit,” ujarnya.

Greenland sendiri memiliki arti strategis yang sangat penting. Selain kaya akan sumber daya alam, termasuk mineral langka, pulau ini juga memiliki posisi krusial di jalur Arktik yang semakin menjadi pusat persaingan global akibat perubahan iklim dan mencairnya es kutub.

Amerika Serikat saat ini telah memiliki kehadiran militer di Greenland melalui Pangkalan Udara Thule, yang berperan penting dalam sistem pertahanan dan peringatan dini AS. Namun, bagi Trump, kehadiran tersebut dinilai belum cukup tanpa kepemilikan penuh atas wilayah tersebut.

Pernyataan Trump diperkirakan akan kembali memanaskan ketegangan geopolitik di kawasan Arktik, sekaligus memicu perdebatan internasional mengenai kedaulatan, hukum internasional, dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Greenland.

Sementara itu, pemerintah Denmark dan otoritas Greenland diprediksi akan terus mempertahankan posisi bahwa Greenland bukanlah objek jual beli, melainkan wilayah dengan identitas, hak politik, dan kedaulatan yang harus dihormati.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pertamina Dorong UMKM Tumbuh Berkelanjutan Lewat Program Pertapreneur Aggregator
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Waka Komisi IV DPR: Warga Manfaatkan Kayu Banjir Sumatera Butuh Payung Hukum
• 18 jam laludetik.com
thumb
Trump Sudah Diberi Opsi Serang Iran saat Demo Besar-besaran Berlanjut
• 10 jam laludetik.com
thumb
Alasan PDIP Nyatakan sebagai Partai Penyeimbang Pemerintah: Konstitusi Kita Tak Mengenal Oposisi
• 38 menit lalukompas.tv
thumb
Raditya Dika Bongkar Mindset Keuangan Bareng Timothy Ronald: Investasi Bukan Jalan Pintas Kaya!
• 5 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.