Iran Memasuki Hari-hari Kritis: Penindasan Brutal, Ancaman Perang, dan Dunia Hadapi Kejatuhan Rezim

erabaru.net
17 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.  Iran memasuki fase paling krusial sejak gelombang protes nasional pecah hampir dua pekan lalu. Pada Kamis–Jumat, 8–9 Januari 2026, aksi protes di berbagai wilayah Iran resmi memasuki hari ke-12, sebuah titik balik yang dinilai akan menentukan nasib rezim Republik Islam Iran.

Gelombang demonstrasi kali ini dipicu oleh seruan terbuka Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, yang mengajak rakyat turun ke jalan pada 8 dan 9 Januari untuk menuntut perubahan politik secara menyeluruh. Seruan tersebut direspons luas oleh masyarakat, dari ibu kota Teheran hingga kota-kota besar lain di seluruh negeri.

Namun, alih-alih membuka dialog, rezim Iran justru meningkatkan represi secara ekstrem.

Pidato Keras Khamenei dan Eskalasi Konfrontasi Terbuka

Pada 9 Januari, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tampil dalam pidato televisi nasional dengan nada paling keras sejak protes dimulai. Dalam pidato tersebut, Khamenei secara terbuka menghina Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyebutnya sebagai “tiran”, dan menuduh seluruh aksi protes di Iran sebagai konspirasi asing yang dikendalikan Washington dan Tel Aviv.

Khamenei mengklaim bahwa para demonstran hanyalah alat kekuatan asing untuk “menjilat Trump”, serta menegaskan bahwa seluruh korban tewas dan luka dalam aksi protes adalah tanggung jawab Amerika Serikat. Ia juga menyatakan tidak akan menyerah dan bahkan melontarkan ancaman akan “menggulingkan pemerintahan Trump”.

Tak lama setelah pidato tersebut, akun resmi Khamenei mempublikasikan 16 unggahan berturut-turut yang seluruhnya mengecam Amerika Serikat dan Israel atas dugaan campur tangan dalam urusan domestik Iran.

Penerbangan Dibatalkan, Internet Diputus, Ancaman Terbuka ke Warga

Seiring meningkatnya ketegangan, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Turki secara bersamaan mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan menuju Iran, menandai kekhawatiran regional yang semakin serius.

Di dalam negeri, setelah pemutusan total internet dan listrik di banyak wilayah, media nasional Iran untuk pertama kalinya mengakui keberadaan aksi protes—namun dengan narasi resmi yang menyalahkan “kelompok teroris asing” yang diklaim berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam siaran televisi nasional, rezim bahkan melontarkan ancaman terbuka kepada warga: “Jangan biarkan anak-anak Anda keluar malam ini. Jika mereka tertembak, jangan mengeluh.”

Sementara itu, radio dan televisi pemerintah melaporkan adanya demonstrasi pro-pemerintah di sejumlah kota, yang menuntut aparat keamanan menumpas “perusuh asing”.

Dunia Luar Menilai: Sinyal Awal Pembantaian Massal

Pengamat internasional menilai bahwa pemadaman total internet, listrik, dan pelabelan protes damai sebagai aksi terorisme merupakan pola klasik pembenaran menuju kekerasan massal.

Banyak analis membandingkan situasi ini dengan tragedi Tiananmen 4 Juni 1989, ketika rezim menjustifikasi penindasan dengan menuduh rakyat sebagai agen asing. Di media sosial, warganet menyindir narasi Teheran sebagai “lulusan sekolah propaganda PKT” atau “naskah resmi People’s Daily—resep lama, rasa sama”.

Korban Jiwa Membengkak, Rumah Sakit Dibungkam

Jurnalis oposisi Ilya Hashemi melaporkan bahwa berdasarkan kesaksian saksi mata dan seorang dokter bedah di Teheran, jumlah demonstran yang tewas di Teheran, Karaj, dan Shahriar dalam satu malam bahkan melampaui korban pertempuran militer.

Rumah sakit dilaporkan kewalahan, kamera pengawas dimatikan, dan seluruh informasi diblokade. Di Fardis, Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) disebut menggunakan metode penyapuan senapan mesin terhadap massa, menyebabkan puluhan korban luka dan tewas.

Bentrok Besar di Teheran dan Kota-Kota Lain

Pada  8 Januari dini hari, Jalan Pahlavi di Teheran dipenuhi massa yang berusaha menyerbu Kementerian Dalam Negeri. Dua bom molotov dilaporkan dilemparkan ke kompleks tersebut, membakar sebagian fasilitas keamanan. Pasukan keamanan kemudian membuka tembakan ke arah demonstran.

Laporan internal menyebutkan 42 bus dikerahkan ke rumah sakit Teheran untuk mengangkut korban tewas dan luka.

Mashhad Jatuh ke Tangan Massa

Memasuki hari kedua seruan Pahlavi, demonstrasi kembali meledak meski represi brutal terus berlangsung. Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran sekaligus basis kekuasaan Khamenei, terjadi demonstrasi besar-besaran. Laporan menyebutkan pasukan keamanan mundur, bertahan di beberapa gedung pemerintah, sementara kota berada dalam kendali massa.

Seruan Darurat Pahlavi dan Ancaman Intervensi

Putra Mahkota Reza Pahlavi mengeluarkan seruan mendesak kepada Presiden Trump, meminta perhatian dan tindakan segera. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran kini menghadapi tembakan, pemadaman total komunikasi, dan ancaman pembantaian dengan memanfaatkan pemadaman listrik.

Pahlavi menyerukan rakyat untuk menggunakan keunggulan jumlah guna menekan aparat, serta meminta dunia bersiap melakukan intervensi bila diperlukan.

Pernyataan Keras Trump: “Jika Mereka Menembak, Kami Akan Menembak”

Pada  9 Januari sore, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan keras dalam konferensi pers. Ia menyebut kondisi Iran “sangat buruk”, mengonfirmasi bahwa rakyat telah merebut sejumlah kota, dan menegaskan Amerika Serikat terus memantau situasi. “Jika mereka menembak, kami akan menembak. Kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras.”

Trump menegaskan ini bukan berarti pendudukan militer, tetapi Iran akan membayar harga yang sangat mahal. Pernyataan ini mengejutkan jurnalis dan dinilai sebagai pengumuman de facto kesiapan serangan besar AS terhadap Iran.

Mossad Bergerak, Elite Iran Bersiap Kabur

Pada 9 Januari, beredar informasi bahwa Mossad telah melacak lokasi persenjataan dan suplai Garda Revolusi yang disembunyikan di bawah masjid dan situs suci, serta menyampaikan informasi tersebut kepada rakyat Iran. Operasi pelacakan lokasi Khamenei juga dilaporkan sedang berlangsung.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS dan Israel terlibat langsung dalam protes. Sementara itu, laporan Lembaga Penyiaran Publik Israel menyebutkan badan intelijen asing tengah memantau apakah situasi telah mencapai titik runtuh.

Tanda-Tanda Keruntuhan Internal

Laporan menyebutkan Menteri Luar Negeri Iran melarikan diri ke Lebanon, sementara Ketua Parlemen Iran mengajukan visa Prancis. Intelijen Inggris juga melaporkan pesawat kargo Rusia mengangkut emas keluar dari Teheran.

Khamenei sendiri dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi rahasia di gurun Iran timur, dengan pengamanan maksimum oleh Garda Revolusi.

Penutup: Menunggu Titik Balik Sejarah

Situasi Iran kini berada di ambang sejarah. Pengamat menilai dua kemungkinan terbuka: pembantaian besar-besaran, atau kejatuhan rezim secara tiba-tiba di bawah tekanan rakyat dan kekuatan eksternal.

Amerika Serikat dan sekutunya kini berada dalam posisi siaga tinggi. Bagi rezim diktator, pilihan sering kali tinggal dua: bertahan dengan darah, atau melarikan diri demi nyawa.

Pertanyaan yang tersisa: apakah Khamenei akan bertahan sampai akhir, atau hanya membeli waktu untuk kabur? (***)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
5 Tanaman Pembawa Keberuntungan Saat Imlek, Cocok Dijadikan Dekorasi maupun Kado untuk Orang Terkasih
• 15 menit lalugrid.id
thumb
Hujan Angin, Pohon di Kemang Sempal Hingga Tutup Jalan
• 18 jam lalusuara.com
thumb
Mulai 2026, Pengecekan Barcode KTP dan KK Hanya Lewat Aplikasi IKD
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polda Riau Musnahkan Narkoba Rp 43,9 M Hasil Tangkapan Jelang Tahun Baru
• 11 jam laludetik.com
thumb
Bawaslu soal Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Kami Serahkan kepada Pembuat Undang-undang
• 5 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.