Presiden Prabowo Subianto menyebutkan sebanyak 6-11 proyek hilirisasi yang dikaji Danantara Indonesia akan dimulai dalam waktu dekat. Total investasinya USD 6 miliar atau setara Rp 101 triliun.
Prabowo mengatakan, meskipun proyek hilirisasi membutuhkan uang, dia optimistis Indonesia dapat mencapai tujuan hilirisasi dengan pengelolaan yang baik. Saat ini, Danantara tengah melakukan uji kelayakan (feasibility study/FS) 18 proyek hilirisasi.
"Kita juga dalam waktu beberapa minggu ini, kita akan mulai, kita harapkan minimal 6 proyek hilirisasi, mungkin bisa sampai 11. Nilainya adalah kurang lebih 6 miliar dolar," ungkapnya saat Peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1).
Prabowo juga optimistis bahwa Indonesia akan menerima investasi besar-besaran dari luar negeri terkait proyek hilirisasi. Sebab, dia menyebutkan proses industrialisasi yang dibutuhkan Indonesia butuh 10 hingga 20 tahun atau lebih cepat.
"Saya perkirakan cukup besar investasi yang akan masuk. Kita untuk itu harus benar-benar siapkan awak, siapkan manajemen, siapkan manajer-manajer muda yang bisa menjaga, mengelola proyek-proyek ini," tegasnya.
Salah satu proyek yang akan diresmikan adalah 34 proyek Waste to Energy (WtE) yang mengubah sampah menjadi tenaga listrik. Prabowo menilai proyek ini sangat penting untuk membersihkan sampah khususnya di perkotaan.
"Sampah itu sudah menumpuk luar biasa. Ini sudah akan menjadi bencana. Belasan tahun tidak bisa kita wujudkan proyek sampah yang baik. Kita sekarang akan mulai 34 proyek, tendernya dibuka mungkin hari-hari ini, tapi ini butuh waktu 2 tahun sampai berfungsi," tutur Prabowo.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan 18 proyek hilirisasi yang sedang dikaji Danantara Indonesia akan mulai dibangun alias groundbreaking secara bertahap pada Januari hingga Maret 2026.
Dia menyebutkan, sebanyak 6 proyek hilirisasi akan groundbreaking pada bulan ini, sementara sisanya akan dimulai pada Februari dan Maret 2026.
"Rencananya akan ada di bulan Januari, ada 6 groundbreaking dari program hilirisasi yang kemudian nanti dilanjutkan di bulan Februari dan di bulan Maret untuk menyelesaikan kurang lebih 18 program hilirisasi yang sudah kita sepakati," ungkap Prasetyo kepada wartawan di Hambalang, Selasa (6/1).
Prasetyo mencontohkan proyek yang akan diresmikan adalah Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy yang akan dibangun di 34 titik. Masing-masing PSEL akan mengolah 1.000 ton per hari.
Selanjutnya adalah dari sektor energi, salah satunya beberapa proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME). Salah satu perusahaan yang akan menggarap proyek tersebut adalah PT Bukit Asam (PTBA).
"Kemudian juga ada program-program di bidang pertanian yang tadi sudah kami sebutkan, itu adalah salah satu program padat karya tetapi juga memiliki nilai investasi yang cukup besar karena kita adalah negara yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Besar kita dapat memproduksi komoditas-komoditas yang memiliki nilai jual tinggi seperti kopi, cokelat, pala, dan sebagainya," tutur Prasetyo.





