RI Berpotensi Surplus Solar di 2026, Ini Dua Faktor Pendukungnya

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Tidak hanya menghentkan impor, namun Indonesia berpotensi mencatat surplus solar sebesar 1,4 juta kiloliter (kl).

RI Berpotensi Surplus Solar di 2026, Ini Dua Faktor Pendukungnya. (Foto Istimewa)

IDXChannel — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia akan menyetop impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun ini. Bahkan, tidak hanya menghentkan impor, namun Indonesia berpotensi mencatat surplus solar sebesar 1,4 juta kiloliter (kl).

Bahlil menyebut proyeksi tersebut tercermin dari perhitungan produksi dan konsumsi solar nasional. Pada 2025, konsumsi solar dalam negeri mencapai sekitar 38 juta kl, di mana 5 juta kl di antaranya masih dipenuhi dari impor.

Baca Juga:
Jelang Peresmian RDMP Balikpapan, Stok BBM Solar Kini Masih Gunakan Kuota Impor 2025

Namun, Bahlil menegaskan, produksi solar domestik tahun ini mampu menutup, bahkan melampaui, kebutuhan impor tersebut.

“Impor (solar) kita tinggal 5 juta kl, jadi sudah tertutupi. Bahkan, surplus 1,4 juta kl,” ujar Bahlil di Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Baca Juga:
Ada Program B40, Impor Solar RI Turun 3 Juta Ton di 2025

Dia kemudian mengungkapkan dua alasan mengapa Indonesia akan mencapai surplus tersebut.

Baca Juga:
Bahlil Targetkan Stop Impor Solar Mulai Semester II-2026

Pertama, pemerintah akan menerapkan kebijakan biodiesel B50 pada tahun ini, yang merupakan kelanjutan dari kebijakan biodiesel B40 di tahun lalu. Biodiesel B50 sendiri merupakan bahan bakar nabati (BBN) dengan komposisi 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar.

"Jika komposisi minyak sawit semakin besar, maka kebutuhan solar bisa semakin ditekan," katanya.

Kedua, modernisasi kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan turut memperkuat kapasitas produksi domestik. Kilang tersebut ditargetkan mampu memproduksi 1,8 juta kl solar per tahun dan menekan impor hingga Rp14,9 triliun.

“Alhamdulilah atas perintah Bapak Presiden, mulai sekarang yang kita bicarakan ini tidak ada lagi impor solar ke depan,” kata dia.

Meski demikian, dia menegaskan, surplus tersebut berlaku untuk solar dengan spesifikasi standar cetane number (CN) 48. Indonesia masih akan mengimpor solar dengan spesifikasi CN 51 yang umumnya digunakan sektor industri, meskipun volumenya relatif kecil.

“Sementara (solar) C51, impor kita itu hanya 600 ribu kl. Nanti di semester kedua, saya minta Pertamina untuk membangun agar tidak kita impor,” ujar Bahlil.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sudinsos-BPBD salurkan bantuan bagi korban kebakaran di Tambora Jakbar
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Usai Hujan Lebat Picu Banjir, Sejumlah Saluran di Jaksel Dikeruk
• 1 jam lalukompas.com
thumb
KPK Geledah Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakut, Angkut Sejumlah Koper-Tas
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Persaingan Posisi 3 Besar BRI Super League yang Makin Sengit, Ini Fakta Menariknya
• 17 jam lalubola.com
thumb
SBY Wakili AHY di Perayaan Natal Demokrat: Matahari Hanya 1, Saya Mentor Senior
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.