VIVA – Kabar duka kembali datang dari industri musik. Dunia musik alternatif dan eksperimental kehilangan salah satu talenta mudanya, Matt Kwasniewski-Kelvin, gitaris band rock eksperimental asal Inggris Black Midi.
Ia meninggal dunia pada usia 26 tahun. Kabar tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi keluarga yang menyebutkan bahwa sang musisi wafat setelah perjuangan panjang melawan kesehatan mentalnya. Scroll untuk info lebih lanjut...
“Seorang musisi berbakat dan pria yang baik serta penuh kasih akhirnya menyerah; meski segala upaya telah dilakukan,” demikian pernyataan resmi keluarga, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa, 13 Januari 2026.
“Ia akan selalu dicintai. Mohon luangkan waktu sejenak untuk mengecek kabar orang-orang terdekat Anda agar kita bisa menghentikan hal ini terjadi pada para pria muda,” sambungnya lagi.
Pernyataan keluarga tersebut dibagikan di media sosial oleh label rekaman Black Midi, Rough Trade. Label tersebut menyebut Kwasniewski-Kelvin sebagai sosok yang sangat berbakat dan akan selalul dirindukan.
Kwasniewski-Kelvin merupakan bagian penting dari perjalanan Black Midi, salah satu band rock paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Ia bertemu dengan para personel lain saat menempuh pendidikan di Brit School, sebuah institusi seni pertunjukan ternama di London yang juga melahirkan banyak musisi Inggris berpengaruh.
Ketertarikan Kwasniewski-Kelvin terhadap musik dimulai sejak kecil, dengan pengaruh pop-punk dan rock klasik. Namun arah musikalnya berubah setelah bertemu dengan vokalis Black Midi, Geordie Greep.
Dari sana, ia mulai tertarik pada musik noise dan rock eksperimental. Beragam elemen tersebut kemudian menyatu menjadi identitas musikal Black Midi yang agresif, progresif, dan sulit dikotakkan.
Identitas itu terdengar jelas dalam album debut mereka pada 2019 berjudul Schlagenheim. Album tersebut mendapat sambutan luas dari kritikus dan penggemar, serta mengukuhkan posisi Black Midi sebagai band dengan pendekatan musikal yang berani dan tak konvensional.
Schlagenheim masuk daftar nominasi Mercury Prize pada tahun yang sama dan mendapat label “best new music” dari Pitchfork. Album tersebut dipuji sebagai album yang “magnetis dan memukau”.
Kesuksesan awal tersebut membawa Black Midi meraih basis penggemar yang fanatik dan reputasi sebagai salah satu band paling petualang secara musikal di generasinya. Namun, di balik pencapaian tersebut, Kwasniewski-Kelvin menghadapi perjuangan pribadi yang berat.



