REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah mengumumkan peluncuran tahap kedua dari rencana yang ditengahi AS untuk mengakhiri genosida Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Pemerintahan teknokratis Palestina disebut telah dibentuk menuju fase kedua itu.
Steve Witkoff mengatakan dalam sebuah posting media sosial pada Rabu bahwa rencana 20 poin Trump di Gaza “beralih dari gencatan senjata ke demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi”.
Baca Juga
UNICEF: Seratus Anak Gaza Syahid Sejak 'Gencatan Senjata'
Dokumen Ini Ungkap Bagaimana UEA Dukung Israel Saat Genosida Terjadi di Gaza
Anak-Anak Gaza Berguguran dalam Kedinginan
Fase kedua akan membentuk pemerintahan transisi untuk memerintah wilayah Palestina yang dibombardir dan menyaksikan “demiliterisasi penuh dan rekonstruksi Gaza”, kata Witkoff.
"AS mengharapkan Hamas untuk sepenuhnya mematuhi kewajibannya, termasuk segera mengembalikan sandera terakhir yang meninggal. Kegagalan untuk melakukan hal ini akan membawa konsekuensi serius," katanya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Merujuk Aljazirah, Israel telah melanggar gencatan senjata yang ditengahi AS lebih dari 1.190 kali sejak diberlakukan pada bulan Oktober, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, menewaskan lebih dari 400 warga Palestina dan menghalangi bantuan kemanusiaan penting memasuki wilayah kantong tersebut.
Hamas, yang mengutuk pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan Israel, tidak segera mengomentari pengumuman Witkoff.
Presiden Donald Trump berpose dengan perjanjian yang ditandatangani pada pertemuan puncak para pemimpin dunia tentang mengakhiri perang Gaza, di Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin, 13 Oktober 2025. - ( Suzanne Plunkett/Pool Photo via AP)
Dilaporkan dari Deir el-Balah di Gaza tengah pada Rabu, Aljazirah mencatat bahwa kelompok Palestina sebelumnya mengatakan mereka siap untuk melepas pemerintahan sehari-hari di Gaza sebagaimana diuraikan dalam rencana Trump.
Namun susunan dan kewenangan badan sementara yang diperkirakan akan memerintah di daerah kantong tersebut masih belum jelas.
Dia menambahkan bahwa pertanyaan serius juga masih ada seputar rekonstruksi Gaza, di mana lebih dari 80 persen bangunan rusak atau hancur akibat pemboman Israel. "Ketahanan gencatan senjata tetap menjadi variabel kunci. Kemunduran apa pun dapat menunda atau bahkan merusak rencana ini," kata Abu Azzoum.