Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menanggapi aksi demonstrasi besar-besaran di Iran yang menewaskan ribuan orang. Dave meminta pemerintah Indonesia berhati-hati dalam menyikapi situasi politik dan demonstrasi yang masih berlangsung di Iran.
"Komisi I DPR RI memandang aksi demonstrasi yang terjadi di Iran sebagai bagian dari dinamika politik domestik negara tersebut. Setiap bangsa memiliki hak dan mekanisme internal dalam menyelesaikan persoalan politik maupun sosialnya," kata Dave kepada wartawan, Kamis (15/1/2026).
"Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip non‑intervensi dalam hubungan internasional tentu menghormati kedaulatan Iran untuk mengatur urusan dalam negerinya sendiri," sambungnya.
Namun, Dave menilai intervensi yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar aksi demo di Iran terus berlanjut, dapat memperkeruh keadaan. Dia menegaskan Indonesia menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif.
"Terkait adanya pernyataan dari pihak luar yang mendorong agar demonstrasi terus berlanjut, kami menilai bahwa setiap bentuk intervensi asing terhadap urusan domestik suatu negara berpotensi memperkeruh keadaan," ujarnya.
Politikus Golkar ini pun menekankan pentingnya pendekatan yang hati-hati dan diplomatis. Dia meminta Kementerian Luar Negeri untuk terus memastikan keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di negara tersebut.
"Adapun mengenai posisi pemerintah Indonesia, kami menekankan pentingnya sikap hati-hati dan diplomatis," ujarnya.
"Keselamatan WNI selalu menjadi prioritas utama. Jika situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang membahayakan, maka opsi evakuasi harus dipertimbangkan secara serius dengan koordinasi penuh antara pemerintah Indonesia dan perwakilan RI di Iran," sambungnya.
Pihaknya, lanjut Dave, mendukung langkah-langkah pemerintah. Khusunya, yang mengedepankan perlindungan WNI, menjaga hubungan diplomatik yang baik, serta tetap berpegang pada prinsip non-intervensi.
"Intinya, Indonesia harus bersikap tegas dalam melindungi kepentingan nasional, namun tetap diplomatis dalam menyikapi dinamika politik di negara lain," tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyorot demonstrasi besar-besaran di Iran. Ia meminta warga Iran terus melakukan demonstrasi.
"Para Patriot Iran, TERUS BERDEMONSTRASI - KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!!... BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social dilansir dari Reuters, Selasa (13/1).
Trump sendiri telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai "pembunuhan tanpa akal sehat" terhadap para demonstran berhenti.
Sampai saat ini, korban tewas dalam unjuk rasa di Iran telah bertambah. Menurut data terbaru kelompok hak asasi manusia (HAM), HRANA, sedikitnya 2.571 orang tewas, yang sebagian besar disebut akibat penindakan keras oleh otoritas Iran terhadap demonstran.
Gelombang unjuk rasa mengguncang Iran sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.
Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam. Beberapa hari terakhir, unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan dan rentetan kekerasan.
(amw/eva)





