Oleh: Tutik Sutiawati
Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo”
Indonesiaku, Kau adalah tempat aku pulang, meski kadang atapnya bocor dan dindingnya retak. Aku mencintaimu bukan karena kau selalu adil, tapi justru karena kau sering membuatku gelisah. Gelisah dengan masa depan anak- anak, anak kita yang hidup di negara yang pejabatnya selalu membodohi rakyat untuk memperkaya diri. Rakyat yang bersuara dicap anti pembangunan, dianggap penghambat investasi, bahkan dikriminalisasi. Tulisan ini adalah goresan hati seorang ibu. Ibu biasa. Bukan pejabat, bukan ahli hukum. Hanya seorang perempuan yang mencintai negeri ini: lewat doa, lewat cemas, dan lewat keberanian untuk bersuara.
Anda tahu pekerjaan paling berbahaya di Indonesia hari ini ? Jurnalis dan aktivis lingkungan. Iya betul. Di negeri yang katanya demokratis, menyampaikan kebenaran justru menjadi profesi yang rawan. Sejak disahkannya Kitab Undang- Undang Hukum Pidana(KUHP) dan Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana(KUHAP) terbaru yang prosesnya dinilai minim partisipasi publik. Kita seperti masuk ke lorong sempit yang bernama ketakutan.
Demokrasi kita pelan- pelan disunat, kritik mulai dicurigai, dan kebebasan bicara diperlakukan seperti ancaman.
Sebagai seorang ibu, penulis sering bertanya dalam hati. Apakah demokrasi Indonesia masih sehat ? Kritik terhadap pemerintah, DPR, atau aparat bisa berujung bui.Batas antara kritik dan menghina jadi kabur. Unjuk rasa spontan bisa diproses hukum. Alih- alih transparansi, yang muncul justru pembatasan informasi.
Yang lebih menyedihkan, ketakutan itu kini merata. Jurnalis, aktivis konten, ilmuwan, komedian, seniman, mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga. Semua bisa kena. Semua bisa dijerat. Kritik harus sesuai dengan selera pemerintah. Di media sosial, ruang yang dulu jadi tempat curhat dan diskusi, kini terasa seperti ladang ranjau. Salah kata, salah tafsir, bisa berujung pidana. Teror terhadap influencer (pemengaruh di media sosial) yang berani bersuara sudah berulang kali terjadi. Bahkan penindasan terhadap jurnalis oleh aparat saat liputan di Aceh masih hangat di ingatan. Putera penulis, seorang aktivis lingkungan, kini berada di sana. Setiap hari penulis berdoa dan merasa cemas. Ia sering memposting kegiatannya.
Mendampingi warga, meninjau lokasi bencana, berbicara soal tambang, sawit, hutan yang digunduli. Ia menulis bahwa bencana di Aceh dan Sumatera bukan semata soal cuaca, tapi akibat dari keputusan politik. Izin yang serampangan, eksploitasi alam tanpa kendali. Hasil tambang dan sawit mengalir ke kantor segelintir orang, teman dan saudara pejabat. Sementara lumpur, banjir, dan longsor jadi warisan untuk rakyat.
Sebagai seorang ibu, jujur saja , penulis takut. Takut ia menjadi target. Takut suatu ketika penulis menerima kabar buruk hanya karena ia memilih berpihak pada alam dan rakyat kecil. Tapi di sisi lain, ada rasa bangga yang tidak bisa penulis sembunyikan. Bangga karena ia berani. Bangga karena ia tidak diam. Di situ penulis sadar, bahwa cinta kepada bangsa ini memang tidak selalu nyaman. Kadang ia datang dalam bentuk cemas yang panjang, dalam bentuk doa yang tak putus- putus.
Rakyat Aceh hingga hari ini masih berjuang bangkit dari bencana. Pemulihan berjalan lambat, beban terlalu berat. Mereka diuji oleh keadaan. Sementara kita diuji oleh kepedulian. Mau sampai kapan kita menutup mata? Mau sampai kapan kita pura- pura tidak tahu bahwa kerusakan alam adalah buah dari kebijakan yang salah. Kita sering diajari sejak kecil: jangan buang sampah sembarangan, nanti banjir dan longsor.Tapi kita lupa satu hal penting: memilih pemimpin sembarangan juga bisa menyebabkan banjir dan longsor. Bahkan lebih parah, dampaknya panjang dan sistematik.
Untuk anak- anak muda Makassar. Anak muda Sulawesi Pa’rasanganta, penulis ingin katakan begini. Janganki memilih jadi penonton saja. Janganki bilang “Bukan urusanku”. Politik itu bukan barang jauh di Senayan sana.Politik itu ada di dapur kita, di harga beras, di udara yag kita hirup, di tanah longsor yang menimba rumah warga. Ketidakpedulian terhadap politik adalah pupuk paling subur bagi penindasan dan ketidakadilan.
Tapi mungkin ada yang bertanya, bagaimana kita rakyat kecil bisa ikut berpolitik ? Bersuaralah. Bersuara itu penting. Bicarakan dengan teman, kelompok atau pemerintahan terkecil di lingkunganta. Kalau ada kebijakan yang terasa salah. Katakan salah. Kalau ada ketidakadilan. Jangan dinormalisasikan.Bersuaralah di ruang- ruang yang kamu bisa. Karena dengan bersuara, kita saling menguatkan. Dengan bersuara, kita saling menjaga.
Melawan ketidak adilan bukan suatu dosa. Ia justru kewajiban moral. Negara ini tidak dibangun oleh orang- orang yang diam. Indonesia lahir dari suara- suara yang berani, dari perlawanan terhadap ketidakadilan. Kalau kita diminta diam, itu berarti suara kita masih berarti.
Indonesiaku, bulaeng tallasakku, panrannuangku. Aku mencintaimu sepenuh hati. Justru karena cinta itulah aku memilih gelisah, memilih bersuara, memilih tidak diam. Untuk putraku, untuk anak- anak kita semua, dan untuk masa depan negeri ini. (*/)




