Gaya Komuter di Perayaan Artisan Chanel 2026

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sejak 2002, rumah mode Chanel merayakan keahlian tingkat tinggi para artisannya lewat peragaan Métiers d’Art. Yakni peragaan busana tahunan yang diselenggarakan oleh rumah mode Chanel untuk menampilkan koleksi khusus yang berfokus pada keahlian kriya tingkat tinggi (savoir-faire).

Berbeda dari peragaan musiman dalam kalender Fashion Week, koleksi Métiers d’Art secara khusus menyoroti hasil kerja para artisan dan atelier yang berada di bawah naungan Chanel, seperti pembuat bordir, penenun tweed, perajin bulu, hingga pembuat aksesori.

Dengan kata lain, show ini merupakan pernyataan cinta kepada para perajin yang berkontribusi pada koleksi Chanel sepanjang tahun. Menariknya, Métiers d’Art Chanel 2026 adalah peragaan kedua bagi Matthieu Blazy, direktur kreatif Chanel saat ini.

Ia memilih keriuhan stasiun kereta bawah tanah New York sebagai tempat dan sumber inspirasi yang mewakili kehidupan para komuter di atas pentas. Hasilnya: anabul, coffee cup, dan kekisruhan yang indah.

Peragaan Métiers d’Art selalu digelar di lokasi-lokasi yang berbeda dan spesial, dari Hangzhou Cina, Dakar di Senegal, hingga Kawasan Northern Quarter di Manchester, Inggris. Hampir seabad lalu ketika Chanel melawat ke New York dan mendapati orang-orang kebanyakan yang mengopi gaya mode inggilnya.

Alih-alih geram, ia menganggap fenomena ini sebagai pujian dan menjadikannya sebagai inspirasi berkarya. Blazy yang sebelumnya bekerja di rumah mode Amerika Serikat, juga mendapati hal-hal menarik dari kota ini, terlebih kehidupan nyata orang-orang yang menggunakan transportasi bawah tanah, lalu-lalang ke berbagai tujuan dengan berbagai gaya.

Maka peragaan mengambil tempat di stasiun kereta bawah tanah yang tidak terpakai di bawah Bowery, Lower East Side, memamerkan visi Blazy dalam mempertemukan spirit New Yorker dengan keterampilan inggil para artisan Chanel.

Tidak linear, para model memiliki alur ceritanya masing-masing. Bhavitha Mandava, seorang mahasiswi arsitektur dan model kelahiran Hyderabad yang berbasis di New York, menjadi model pertama India yang membuka peragaan busana Chanel.

Sebuah kereta api memasuki stasiun, model-model berjalan dengan koreografi para pengguna kereta; seolah-olah sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja atau pesta–mereka berdiri menunggu di peron, memencet tombol telepon umum, dan membaca surat kabar.

“Kereta bawah tanah New York adalah milik semua orang. Semua orang menggunakannya: ada mahasiswa dan para pengubah dunia; negarawan dan remaja,” kata Blazy dalam siaran pers.

Menurutnya, setiap orang memiliki tujuan dan masing-masing unik dalam apa yang mereka kenakan. Seperti dalam film, mereka adalah pahlawan dalam kisahnya sendiri.

Tak hanya tempat dan tujuan, mereka juga seperti berasal dari masa yang berbeda. Ada jurnalis dari era 1970-an yang bergegas mengejar narasumber, perempuan eksekutif dengan dandanan tahun 1980-an menuju rapat direksi, mahasiswa dengan celana denim yang terlihat kasual namun dihiasi sulaman dahsyat hasil karya artisan Lesage, serta perempuan-perempuan berpesta gala yang dapat terjadi dalam kurun waktu satu abad terakhir, dari 1920-an ke 2020-an.

Yang membuat panggung ini kental dengan napas New York adalah ikon-ikon yang menjadi penanda: perempuan menenteng tas lebih dari satu, mondar-mandir dengan tumbler kopi. Obsesi kota ini dengan anabul timbul lewat kehadiran motif-motif hewan peliharaan.

Lalu turis dengan kaus I Love New York, Clark Kent dengan sweater Superman-nya yang tersembul di antara blazer tweed, melambangkan benturan arketipe budaya pop.

Di dunia Chanel, semua ini dikemas dengan menonjolkan keahlian para artisan. Mitra-mitra perajin di antaranya Atelier Montex, Lesage, Goossens, yang memiliki spesialisasi dalam bordir, renda, dan pandai emas, menjadi kekuatan di balik kemasyhuran label Chanel sendiri.

Peragaan tahunan ini seperti pengingat bahwa di balik keglamoran dan bisingnya kata kemewahan, ada keterampilan tingkat tinggi yang dimiliki segelintir perajin yang perlu dipupuk dan diwariskan.

Bagi yang tak berbakat, berdandan seperti bintang film saja akan membuat kehidupan komuter Anda lebih berwarna.

Penulis: Rifina Marie

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Era KUHP Baru, Kejaksaan Prioritaskan Pemulihan Kerugian Negara
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Pertapreneur Aggregator, Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Transjakarta Minta Maaf atas Insiden Tunanetra Jatuh ke Selokan, Janji Bertanggung Jawab
• 22 jam lalumerahputih.com
thumb
Peringatan Isra Mikraj 27 Rajab 1447 H, Ini Amalan yang Dianjurkan bagi Umat Islam
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
OJK Gandeng Bareskrim Polri Berantas Scam saat Korban Penipuan Makin Banyak dan Modus Beragam
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.