Antara Doa, Penantian, dan Kebetulan: Siapa yang Sebenarnya Kita Percaya?

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Manusia adalah makhluk yang gemar berharap. Dalam setiap doa yang terucap, dalam setiap malam panjang penuh penantian, dan dalam setiap kejadian yang datang tanpa peringatan, terselip satu pertanyaan mendasar yang jarang kita sadari: sebenarnya kepada siapa kita menggantungkan kepercayaan? Apakah kita percaya kepada Tuhan, kepada takdir, kepada usaha sendiri, atau justru kepada kebetulan yang kita bungkus dengan nama “keajaiban”?

Judul ini bukan sekadar rangkaian kata puitis. Ia adalah potret realitas batin manusia modern: generasi yang rajin berdoa, tekun menunggu, namun diam-diam menggantungkan harapan pada kemungkinan acak semesta. Kita berdoa agar diterima kerja, lalu menunggu panggilan berhari-hari. Ketika akhirnya diterima, kita berkata, “Ini takdir Tuhan.” Namun jika tidak, kita berkata, “Mungkin belum rezeki.” Tapi di balik semua itu, bukankah kita juga sadar bahwa ada faktor lain: persaingan, keberuntungan, bahkan kesalahan kecil administratif? Lalu, kepada siapa sebenarnya kita percaya?

Doa seharusnya menjadi simbol kepercayaan tertinggi manusia kepada kekuatan yang melampaui dirinya. Namun dalam praktiknya, doa sering kali berubah menjadi transaksi. Kita meminta, menawar, bahkan kadang mengancam secara halus: “Jika ini terkabul, aku akan lebih rajin ibadah.” Ini bukan lagi kepercayaan tulus, melainkan kontrak spiritual. Kita ingin hasil, bukan kedekatan. Kita percaya pada Tuhan sejauh Tuhan memenuhi keinginan kita.

Lalu ada penantian. Penantian adalah ujian paling jujur tentang seberapa kuat keyakinan seseorang. Menunggu hasil ujian, menunggu kepastian hubungan, menunggu kesembuhan, menunggu perubahan nasib. Namun di era serba cepat, menunggu menjadi penderitaan baru. Kita ingin jawaban instan, padahal hidup tidak bekerja seperti notifikasi ponsel. Dalam penantian, banyak orang mulai goyah. Doa yang awalnya penuh keyakinan berubah menjadi kecemasan. Dari percaya, menjadi ragu. Dari ragu, menjadi putus asa. Penantian membuka tabir: ternyata tidak semua orang benar-benar percaya, banyak yang hanya berharap.

Kemudian datanglah kebetulan. Sesuatu yang tidak direncanakan, tidak diminta, bahkan kadang tidak layak kita terima. Kita bertemu seseorang “secara tidak sengaja” yang kemudian mengubah hidup. Kita lolos dari musibah “secara kebetulan”. Kita mendapat peluang emas dari peristiwa yang tak pernah kita bayangkan. Anehnya, ketika hal baik datang secara acak, kita buru-buru mengklaimnya sebagai jawaban doa. Namun ketika hal buruk datang, kita menyebutnya nasib buruk. Di sinilah kontradiksi manusia terlihat jelas: kita ingin percaya pada rencana Tuhan, tetapi hanya untuk hal-hal yang menyenangkan.

Lalu muncul pertanyaan paling jujur: apakah kita percaya kepada Tuhan, atau kita percaya kepada hasil yang kita inginkan? Apakah doa kita bentuk keimanan, atau sekadar mekanisme coping agar kita tidak merasa sendirian menghadapi ketidakpastian?

Di sisi lain, ada pula mereka yang memilih percaya pada diri sendiri. “Doa tanpa usaha adalah sia-sia,” begitu kata pepatah. Namun sering kali kalimat ini dijadikan pembenaran untuk menyingkirkan aspek spiritual sepenuhnya. Segalanya diukur dengan logika, strategi, dan kerja keras. Jika berhasil, itu karena usaha. Jika gagal, kurang strategi. Tidak ada ruang untuk misteri, apalagi keajaiban. Tetapi lucunya, ketika semua rencana matang tiba-tiba runtuh karena faktor tak terduga, manusia tipe ini pun akhirnya bertanya: “Mengapa ini terjadi padaku?” Artinya, bahkan orang yang merasa sepenuhnya mengandalkan diri pun tetap menyimpan harapan akan sesuatu di luar kendali mereka.

Pada akhirnya, hidup bergerak di antara tiga poros: doa sebagai harapan, penantian sebagai ujian, dan kebetulan sebagai pengingat bahwa tidak semua bisa kita kendalikan. Kombinasi ketiganya membentuk cara kita memaknai kehidupan. Namun sayangnya, banyak dari kita terjebak dalam ilusi: kita merasa percaya, padahal sebenarnya kita hanya ingin kepastian.

Mungkin pertanyaan sesungguhnya bukan lagi “Siapa yang kita percaya?”, melainkan “Beranikah kita percaya tanpa syarat?” Berani berdoa tanpa menuntut hasil tertentu. Berani menunggu tanpa kehilangan keyakinan. Berani menerima kebetulan tanpa harus selalu memberi label “rencana indah” atau “hukuman”. Karena kepercayaan sejati bukan tentang mendapat apa yang kita mau, melainkan tetap teguh bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Ironisnya, di zaman yang penuh teknologi dan informasi ini, manusia justru semakin sulit percaya. Kita mengecek ramalan zodiak, konsultasi motivator, membaca tanda-tanda semesta, sekaligus berdoa. Kita menaruh harapan pada banyak hal sekaligus, seolah takut jika satu pegangan tidak cukup kuat. Kita tidak lagi bersandar pada satu keyakinan, tetapi pada campuran spiritualitas, logika, dan keberuntungan. Campuran ini menciptakan manusia modern: religius tapi ragu, rasional tapi berharap keajaiban.

Maka, antara doa, penantian, dan kebetulan, kita sebenarnya sedang mencari satu hal: makna. Kita ingin hidup terasa masuk akal. Kita ingin percaya bahwa semua tidak sia-sia. Bahwa air mata, usaha, dan harapan tidak menguap begitu saja. Namun mungkin jawaban paling jujur adalah ini: kita tidak sepenuhnya percaya pada siapa pun. Kita hanya terus mencoba percaya, karena hidup tanpa kepercayaan akan terlalu sunyi untuk dijalani.

Dan barangkali, justru dalam ketidakpastian itulah manusia belajar: bahwa percaya bukan berarti selalu yakin, tetapi tetap melangkah meski ragu. Karena pada akhirnya, hidup tidak pernah memberi kepastian penuh lagi, ia hanya memberi kesempatan untuk terus memilih: menyerah, atau percaya lagi.

Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Fakultas Ilmu Komputer


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Misi Masuk Sejarah! John Herdman Ingin Antar Indonesia Angkat Trofi Piala AFF
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Bank Jateng Dukung Pembayaran Parkir Lewat QRIS di Purworejo
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Piala AFF 2026 Bukan Agenda FIFA, Rizky Ridho: Siapa pun yang Dipanggil Akan Berikan yang Terbaik untuk Timnas Indonesia
• 21 jam lalubola.com
thumb
Peran Konselor Laktasi Dalam Meningkatkan Keberhasilan ASI Eksklusif
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
PDIP Disebut Ogah Ladeni PSI yang Ingin Menjadikan Jateng Kandang Gajah
• 10 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.