Penulis: Sumali
TVRINews, Bojonegoro
Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di wilayah pelosok Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih memprihatinkan. Seperti yang dialami Raudhatul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bahrul Ulum di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Bojonegoro.
Para siswa terpaksa belajar di tengah keterbatasan fasilitas yang jauh dari kata layak. Lantai kelas masih berupa tanah, sejumlah tembok tampak membutuhkan perbaikan, sementara plafon kelas juga dalam kondisi rusak. Situasi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan hingga kini masih digunakan sebagai ruang belajar.
Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para siswa untuk tetap menuntut ilmu. Di dalam kelas, banyak meja dan kursi yang rusak akibat dimakan rayap. Selain itu, atap bangunan yang bocor kerap menyebabkan air hujan masuk ke dalam ruang kelas dan mengganggu proses belajar mengajar.
Sekolah yang berdiri sejak tahun 2014 ini awalnya berada di bawah naungan Yayasan Ansorul Umma. Namun saat ini, RA dan MI Bahrul Ulum Deling telah berdiri sendiri dan masih dalam proses administrasi kelembagaan.
"Dulu yayasannya Ansorul Umma, sekarang berdiri sendiri dan masih proses," ujar Guru RA–MI Bahrul Ulum Deling, Supaiti, Kamis 15 Januari 2026.
Supaiti menjelaskan, aktivitas belajar mengajar saat ini dilakukan dalam satu bangunan berukuran 14 x 6 meter yang disekat menjadi empat ruangan. Empat ruangan tersebut digunakan bersama untuk enam kelas Madrasah Ibtidaiyah dan satu kelas RA.
Kelas I dan II digabung dalam satu ruangan, begitu pula kelas III dan IV, serta kelas V dan VI. Sementara satu ruangan lainnya difungsikan sebagai kelas RA dan kantor sekolah setelah kegiatan RA selesai.
Dalam kondisi serba terbatas, RA–MI Bahrul Ulum Deling tetap melayani sebanyak 48 siswa dengan dukungan lima orang tenaga pendidik. Keberadaan sekolah ini dinilai sangat penting bagi warga setempat, mengingat sekolah terdekat lainnya berada di Kecamatan Gondang dengan jarak sekitar empat kilometer dan harus melewati jembatan.
"Kami berharap ada perhatian terhadap keterbatasan sarana sekolah ini, mengingat keberadaan RA–MI Bahrul Ulum Deling sangat penting bagi warga setempat karena sekolah terdekat lainnya berada di kecamatan dan cukup jauh," ucap Supaiti.
Diketahui, bangunan sekolah tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat melalui gotong royong, demi memastikan anak-anak di Desa Deling tetap dapat mengenyam pendidikan.
Editor: Redaksi TVRINews




