Refleksi Tahun Baru 2026: Melestarikan Lingkungan dan Budaya Lokal

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Biasanya setiap tahun baru mengakhiri dari tahun sebelumnya diakhiri dengan kemeriahan dan kebahagiaan oleh seluruh penjuru dunia bahkan Indonesia, namun akhir tahun ini pilu masih terdapat dalam tangisan rakyat bangsa Indonesia terutama di wilayah Sumatera khususnya Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dan beberapa wilayah di pulau Jawa.

Setiap musibah tidak bisa dielakkan dan itu merupakan sunatullah sikap muslim yang paling baik adalah tetap bersabar dan berusaha untuk bangkit mengawali tahun 2026 ini, peran setiap komponen masyarakat dalam membantu korban bencana diperkirakan hilang meninggal hampir 1000 0rang dan luka-luka ratusan orang untuk tetap diperhatikan oleh setiap warga.

Tantangan ke depan adalah bagaimana merawat ekosistem yang lebih baik sangat diperlukan untuk keberlangsungan hidup manusia, sebab-sebab rusaknya alam banjir tidak lain adalah ulah tangan manusia itu sendiri bahkan sengaja untuk kepentingan pribadi

Belum lagi pemulihan kembali sangat membutuhkan waktu yang sangat panjang, tempat tinggal yang belum jelas karena masih diombang-ambing antara bisa bertahan hidup atau tidak, beberapa laporan dari media-media nasional menyebutkan pasca korban banjir sebagian korban banjir ada yang meninggal bukan karena sebab banjir, tetapi makanan yang tidak cukup dan memadai bahkan seorang ibu hamil diketahui janin dalam perutnya tidak berdetak lagi, akibat kurangnya gizi, anak-anak terdampak penyakit kulit karena sempat minum air banjir yang masih keruh dan terpaksa harus minum karena kehausan bantuan yang belum sampai karena sulitnya akses waktu itu.

Sedia payung sebelum hujan adalah peribahasa yang seharusnya dijunjung untuk menghadapi tahun baru 2026 mempersiapkan ketahanan pangan dan lingkungan agar tidak digunduli lagi dengan mode kerakusan, banjir-banjir di setiap di daerah tidak akan terulang lagi seharusnya di tahun depan yang akan datang karena menurut data dari Bupati Tapanuli Tengah Sumatera Utara bencana tahun 2007 masih terulang di tahun 2025, sekitar 18 tahun yang lalu korban lebih banyak di tahun ini.

Konflik Agraria meningkat empat kali sejak tahun 2010, ketika konsesi sawit dan tambang menggusur komunitas lokal, petani kecil malah dijadikan kambing hitam deforestasi padahal kontribusi mereka kurang dari 10 % sementara 25 % konglomeratlah yang menguasai mayoritas konsesi justru mendapat perlindungan politik. 70 juta masyarakat adat bergantung pada hutan kehilangan akses ke tanah luhur mereka tanpa konsesi yang adil.

Tampaknya, pemegang kekuasaan di tahun 2026 ini harus berhati-hati dalam memberikan izin kepada konglomerat karena setelah diberikan izin tidak jarang melewati batas untuk kepentingan tersendiri sementara rakyat harus siap menelan pil pahit dan getah yang beracun.

Selain penguasa, seluruh komponen dan lapisan masyarakat ikut peran serta dalam menjaga alam sekitar dengan menghidupkan budaya dan kearifan lokal yang sudah ada misalnya para leluhur kita dahulu menjadikan hutan sebagai sahabat bukan lawan, seharusnya hujan turun ada rahmat bertolak berubah menjadi bencana, saling menghormati terhadap alam sekitar karena alam juga makhluk hidup yang sama-sama saling membutuhkan antara manusia dan alam sebagai sebuah keseimbangan yang menjaga manusia dan hutan,

Dahulu kalau terjadi banjir sangat disenangi di masa kecil-kecil dahulu karena akan banyak ikan-ikan yang bisa ditangkap dan dinikmati kini berubah ketika hujan lebat turun was-was didalam hati ketika itu langsung sontak terpikir marabahaya sudah mulai datang, margasatwa pun ikut ketakutan kehilangan tempat habitat kemanan lagi mau berlabuh terpaksa mereka harus keluar dari habitatnya mencari perlindungan lambat laun bisa punah semua akibat dosa dan keserakahan manusia dengan lingkungannya. []


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kemerosotan Ekonomi Rusia: Perusahaan Kereta Api Rusia Memangkas Investasi untuk Tahun Ketiga Berturut-turut
• 11 jam laluerabaru.net
thumb
Kalimantan dan Misteri Kehidupan Purba yang Masih Bertahan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Penertiban Parkir Liar, Ras MD: Ini Ujian Ketegasan Wali Kota Makassar
• 18 jam lalufajar.co.id
thumb
Menjaga Kantong di Tengah Ketidakpastian 2026
• 19 jam lalukompas.id
thumb
Keracunan di Warakas 3 Meninggal, Polisi Sita Makanan dan Minuman
• 6 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.