Bank Indonesia melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin. Kurs rupiah ditutup di level 16.860 per dolar AS pada perdagangan Selasa (13/1) atau melemah 1,04% sepanjang tahun ini.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea menjelaskan, melemahnya rupiah dan sejumlah mata uang global lainnya dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. Namun, ia memastikan BI akan konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (14/1).
Meskipun demikian, Erwin mengatakan pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global. Hal ini antara lain Won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan Peso Filipina sebesar 1,04%.
Ia pun memastikan nilai tukar rupiah akan tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, BI juga melakukan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Menurut Erwin, ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$ 156,5 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor. “Ini memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global,” ujar Erwin.
Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas.
“Dengan begitu dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Erwin.

