Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
MoU dengan Smithsonian dan peluang produksi film Hollywood jadi fokus pembahasan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Charge d’Affaires Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter M. Haymond membahas penguatan ekosistem budaya serta peluang kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Amerika Serikat di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Fadli Zon menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan telah melakukan berbagai langkah untuk memperkuat ekosistem budaya nasional, khususnya melalui repatriasi benda cagar budaya dan revitalisasi museum.
“Sejumlah artefak penting telah kami kembalikan dari luar negeri, termasuk fosil Pithecanthropus yang dibawa Eugene Dubois dari Belanda. Kami juga merevitalisasi museum-museum agar menjadi etalase yang merepresentasikan budaya Indonesia,” ujarnya.
Upaya tersebut, menurutnya, tidak hanya untuk mengukuhkan identitas nasional, tetapi juga untuk menjadikan museum sebagai ruang edukasi dan diplomasi budaya.
MoU dengan Museum di Amerika Serikat
Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah museum di Amerika Serikat. Salah satunya melalui nota kesepahaman (MoU) dengan Smithsonian National Museum of Natural History.
“Kerja sama ini melibatkan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan serta museum-museum besar di Amerika, seperti The Metropolitan Museum of Art, untuk pameran karya budaya dan kolaborasi pelaku seni,” kata Fadli.
Dorong Diplomasi Budaya Pop
Selain museum, Fadli mendorong penguatan diplomasi budaya melalui budaya populer, terutama di sektor film dan seni pertunjukan. Ia menilai ekosistem seni Indonesia tengah tumbuh pesat, termasuk kehadiran pelaku musikal di panggung internasional seperti West End.
“Ekosistem film Indonesia juga semakin positif. Ini membuka peluang kerja sama, termasuk kemungkinan produksi film Hollywood di Indonesia, seperti yang pernah dilakukan di Bali,” ujarnya.
Dukungan Program Digitalisasi dari AS
Charge d’Affaires Kedutaan Besar AS Peter M. Haymond menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia menyebut Amerika Serikat memiliki sejumlah program untuk mendukung pelestarian budaya lokal, termasuk dokumentasi dan digitalisasi bahasa daerah.
“Kami memiliki program untuk membantu pendokumentasian dan digitalisasi bahasa lokal agar menjadi bagian dari sistem katalog digital,” ujar Haymond.
Kolaborasi Budaya Pop Lintas Negara
Lebih lanjut, Fadli berharap Kedutaan Besar AS dapat mendukung pengembangan budaya populer Indonesia di panggung global.
“Indonesia memiliki banyak talenta yang sudah mendunia, seperti Agnez Mo, Rich Brian, Joey Alexander, dan Niki. Ke depan, kita bisa memperkuat kerja sama untuk memajukan budaya kedua negara,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews





